
Sebagai bentuk ucapan syukur atas karunia yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan untuk merayaan bulan Muharram atau sering dikenal dengan istilah bulan suro, warga masyarakat Pekon Sidodadi menggelar kesenian tradisional kuda kepang dari sanggar seni Sekar Budoyo, yang dilaksanakan di RT 004 dusun 002, Desa Sidodadi, Kec. Pagelaran, Kab. Pringsewu tepatnya di kediaman Bapak Sudibyo pada hari Jum'at, 28 Juli 2023.
Tari kuda kepang ini sudah berdiri pada tahun 1980 dibawah pimpinan Alm. Mbah Sumo dan sekarang dilanjutkan kepimpinannya oleh Bapak Aip. Pada zaman dahulu pembentukan kelompok tari kuda kepang didukung oleh partisipasi seluruh masyarakat Desa Sidodadi yang berupa partisipasi dana sumbangan untuk membeli alat musik kuda kepang, ada yang menyumbang berbentuk uang tunai, ada yang menyumbang berupa gabah (padi) satu karung, beras 1 Kg bahkan lebih dari satu kilogram. Pada tahun 1980 Desa Sidodadi masih tergabung dengan Desa Wayngison dengan nama Dusun Bedeng I, kemudian pada tahun 2012 tepatnya pada tanggal 24 September 2012 Desa Sidodadi mulai mekar dari yang tadinya Desa Wayngison menjadi desa yang berdiri sendiri di bawah pimpinan Kepala Desa Bapak Hariyatno sesuai dengan keputusan Pemerintah Kabupaten Pringsewu.
Setelah Desa Sidodadi mekar kemudian dibentuk sanggar kelompok tari kuda kepang yang bernama Sanggar Sekar Budoyo. Menurut Bapak Panidi dan Mbah Tulus selaku pengurus sanggar dan pawang kuda kepang mengatakan bahwa Sekar Budoyo terdiri dari dua kata yaitu sekar yang artinya “kembang” dan budoyo yang artinya “budaya”. Berdasarkan arti tersebut memiliki makna bahwa budaya tari kuda kepang terus berkembang di Desa Sidodadi, dimana Desa Sidodadi memiliki arti “wes sido yo dadi”. Jadi diharapkan bahwa Sanggar Sekar Budoyo terus dijalankan dari generasi ke generasi dan sido (sudah) dikembangkan supaya dadi (jadi) budaya yang berkembang.
Perayaan seni kuda kepang ini dilakukan dan diinisiasi oleh warga masyarakat Pekon Sidodadi sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, salain itu untuk meningkatkan tali silaturahmi antar warga masyarakat, sekaligus sebagai salah satu bentuk mencintai budaya Indonesia dengan mempertahankan dan mengenalkan budaya kuda kepang secara turun-temurun.
Bapak Hariyatno, selaku kepala desa Pekon Sidodadi mengharapkan bahwa mudah-mudahan Pekon Sidodadi kedepannya dapat terus terjalin kerukunan antar warga masyarakat, menjadi desa yang aman, nyaman dan makmur.
